Filantropi Muhammadiyah Piyungan

Wabah Covid-19 atau Corona benar-benar memberikan dampak yang besar ke seluruh dunia, termasuk segala aspek kehidupan masyarakat terutama aspek ekonomi. Ekonomi masyarakat benar-benar lesu karena diberlakukan kebijakan yang mengurangi kegiatan perputaran uang dan jual-beli seperti lockdown, work from home (WFH), isolasi diri, sosial maupun physical distancing yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran wabah ini.

Pihak yang merasakan dampak tersebut antara lain pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pariwisata, manufaktur, dan  masyarakat menengah ke bawah. Banyak toko, warung, ataupun rumah makan yang berkurang pendapatannya bahkan ada yang tutup, banyak pegawai yang berkurang pendapatannya, banyak buruh yang dirumahkan, banyak tempat wisata di piyungan yang tutup dan berdampak ke masyarakat sekitar, serta pekerjaan-pekerjaan lain yang ikut terdampak. Hal ini diperparah lagi karena perkerjaan tersebut adalah pemasukan utama dalam kehidupan mereka.

Melihat dampak tersebut, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan di Indonesia terkhusus di kecamatan Piyungan, mulai berinisiatif untuk melakukan kegiatan membantu sesama (ta’awun) atau gerakan filantropi. Hal ini sesuai dengan surat keputusan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang meminta warga Muhammadiyah untuk membantu sesama sebagai wujud fastbiqul khoirot, maka Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan segera bertindak untuk melawan wabah ini.

Istilah filantropi berasal dari bahasa Yunani yakni Philanthropia yang diartikan sebagai cinta manusia. Secara harfiah filantropi diartikan sebagai kepedulian seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain berdasarkan kecintaan kepada manusia. Memakai salah satu teori aktivisme filantropi (Helmut K. Anheier dan Diana Leat : 2006), Muhammadiyah menjalankan yang disebut sebagai filantropi kreatif, yakni salah satu pendekatan dimana ia dapat mengembangkan berbagai perangkat dan praktik model pelayanan filantropi. Gerakan filantropi Muhammadiyah dilakukan melalui lembaga yang dimilikinya yaitu Lembaga Amal Zakat Muhammadiyah (Lazismu). Lembaga yang didirikan dengan semangat Teologi Al-Ma’un ini ikut berperan aktif dalam melawan wabah ini, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan selain melalui Lazismu, ditambah juga BMT EL-BUMMI 373 yang merupakan amal usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi ujung tombak di Piyungan. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan donasi baik via online melalui nomor rekening ataupun via offline dengan dikasih ataupun mengambil secara langsung dari para donatur.

Program kerja yang dilakukan oleh AUM Piyungan berupa pembagian handsanitizer, masker kain, dan penyemprotan. Seiring berjalannya waktu, kedua AUM ini melebur menjadi satu dalam sebuah tim khusus yang dibentuk untuk menghadapi wabah ini yaitu Muhammadiyah Covid-19 Command Center Piyungan (MCCC Piyungan). Tim ini memakai SMA Muhammadiyah Piyungan sebagai posko, untuk program kerjanya  hampir sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Adapun perluasan program dan penambahan program yaitu bentuk donasi tidak hanya uang akan tetapi bisa dalam bentuk barang yang dibutuhkan saat ini seperti alat pelindung diri (APD), masker, handsanitizer, dan sembako. Untuk penyalurannya menargetkan masyarakat yang terdampak terutama warga Muhammadiyah yang berkerja di AUM seperti guru, pegawai, dan warga Muhammadiyah yang berada di sekitar masjid-masjid Muhammadiyah Piyungan. Tim MCCC Piyungan sendiri terdiri dari badan pengurus harian (BPH), tim assessment, tim logistik, tim dana usaha (fundraising), dan tim media sehingga lebih terorganisir.

Hal ini menunjukkan bahwa sifat memberi (altruisme) yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah tidak hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi sebuah kebiasaan. Warga Muhammadiyah pun menyadari bahwa ini saatnya untuk saling bahu membahu (ta’awun) dan berkerja sama untuk melewati situasi sulit ini.

Tentunya kegiatan ini sangat membanggakan, meski ada sedikit kritik yang sering dilontarkan terhadap kegiatan penggalangan dana. Pelaku penggalangan belum tentu ikut menyumbang adalah sebuah kritik yang perlu direnungkan juga, terlepas dari benar atau salah kritik tersebut. Maka sudah selayaknya dalam kegiatan penggalangan dana tersebut, terkhusus para kader Muhammadiyah untuk tidak lupa ikut memberi  terlebih dahulu sebelum meminta.

Oleh : Herlambang Dwi Prasetyo

(Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Piyungan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top