PENGEMBANGAN “DANA TA’AWUN” DI BMT

PENGEMBANGAN “DANA TA’AWUN”  DI BMT

Oleh: Dedi Heri Sutendi (Ketua Koperasi BMT, Trainer, Praktisi NLP)

  1. LATAR BELAKANG KEBUTUHAN (NEED)

Resiko merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia, sejak dilahirkan telah dihadapkan dengan resiko hingga manusia menutup usia untuk dihadapkan pada resiko berikutnya yang lebih kekal. Sedemikian resiko selalu dihadapkan pada setiap sendi kehidupan dan tidak akan dapat seorangpun menghilangkan resiko tersebut.

Resiko sejak lama telah ditangkap oleh perusahaan asuransi dengan membuat produk-produk yang dapat mengalihkan resiko yang terjadi atau memberikan santunan tertentu atas resiko yang terjadi kepada pihak yang terkena resiko maupun keluarga atau ahli warisnya. Produk asuransi tersebut dikemas sedimikian rupa memberikan berbagai macam bentuk janji atas perlindungan terhadap dampak resiko sehingga menarik bagi konsumen. Namun harapan konsumen atas janji yang diberikan perusahaan asuransi sering tidak terkabul yang mengakibatkan banyak masyarakat tidak lagi percaya kepada perusahaan asuransi.

Terlepas dari permasalahan tersebut, produk asuransi selama ini belum banyak dikembangkan untuk masyarakat mikro. Sementara resiko bagi masyarakat mikro tetap besar dan merupakan persoalan tersendiri. Bagi masyarakat mikro kehilangan sumber pendapatan yang diakibatkan oleh kecelakaan, atau sakit merupakan resiko yang sering terjadi atau resiko ketika bencana alam melanda dan ironisnya masyarakat mikro mendiami tempat-tempat atau wilayah yang beresiko tinggi terhadap bencana baik banjir, kebakaran di wilayah yang padat, dan bencana yang lain.

Disisi lain masyarakat mikro merupakan customer Lembaga Keuangan Mikro seperti BMT. Dengan kata lain bahwa costumer atau anggota BMT merupakan golongan yang beresiko dan belum mendapat perlindungan atas resiko tersebut. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap BMT yaitu ketika anggota BMT terkena dampak atas resiko yang berakibat juga pada BMT seperti penurunan kolektibilitas di BMT.

Dari uraian diatas perlu suatu produk perlindungan bagi masyarakat mikro atas berbagai kemungkinan resiko. Perlindungan ini sangat diperlukan oleh masyarakat mikro tersebut dan ini perlu difasilitasi oleh lembaga semacam BMT.

Dalam merumuskan produk perlindungan untuk masyarakat mikro perlu mempertimbangkan beberapa hal agar produk tersebut dapat diterima, antara lain: (1)menghindari dari image buruk asuransi, yang berarti perlu dikembangkan nama lain selain asuransi, (2) sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat mikro. Berdasarkan pertimbangan tersebut dalam tulisan ini ditawarkan sebuah produk dengan nama “Dana Ta’awun”, yang berarti dana tolong menolong. Kata ini dipakai mengingat ide dasar asuransi adalah tolong-menolong antara sesama yang membentuk semacam dana pertanggungan bersama.

  • TUJUAN INOVASI PRODUK

Tujuan dari inovasi produk ini adalah :

  1. Menyediakan produk pertanggungan resiko bagi masyarakat mikro.
  2. Produk dana Ta’awun dapat dimanfaatkan oleh BMT sebagai sumber pembiayaan murah, yaitu dengan memanfaatkan sebagian dana yang dihimpun.
  3. Dalam membentuk loyalitas anggota, produk Dana Ta’awun dapat menjadi ikatan kuat bagi anggota BMT yang pada akhirnya mampu membangun loyalitas.
  • Atribut PRODUK

Produk Dana Ta’awun dikemas sebagai produk asuransi dengan melakukan inovasi-inovasi yang menjadikannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat mikro. Adapun produk didesain dengan atribut-atribut sebagai berikut:

  1. Premi atau iuran yang murah.
  2. Bebas dari biaya administrasi dan biaya pengelolaan.
  3. Peserta memperoleh akses back to back berupa akses pembiayaan di BMT.

Dari atribut produk tersebut menjadikan produk Dana Ta’awun sangat berbeda dengan produk asuransi pada umumnya, perbedaan tersebut ditunjukkan dalam table sebagai berikut :

Perbedaan antara Dana Ta’awun dengan Asuransi

 Dana Ta’awunAsuransi
Kepemilikan DanaMenjadi dana abadi ummatSebagian perusahaan asuransi menjadikan sebagai dana milik perusahaan asuransi
Biaya PengelolaanTidak diperlukan biaya pengelolaan yang dibebankan kepada peserta. Biaya pengelolaan diperoleh dari pengelolaan dana ta’awun untuk pembiayaan yang dilakukan oleh BMT/LKMBiaya pengelolaan dibebankan kepada peserta asuransi
Iuran/PremiIuran dana ta’awun dapat semakin kecil seiring berkembangnya jumlah peserta dan pertumbuhan dana abadi ummat.Iuran dana premi sulit dikurangi disebabkan oleh semakin banyaknya peserta maka biaya pengelolaan semakin bertambah.
Manfaat danaManfaat dana Ta’awun bagi peserta dapat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya dana ta’awunManfaat asuransi
Back to backPeserta memperoleh back to back berupa akses pembiayaan yang disediakan dari dana abadi ummat.Tidak ada back to back langsung kecuali dalam bentuk CSR dari perusahaan asuransi.

Prouk-produk Dana Ta’awun yang ditawarkan oleh BMT dikemas dalam berbagai macam jenis diantaranya adalah :

  1. Dana Ta’awun Pembiayaan.

Merupakan bentuk pertanggungan atas resiko kematian sesorang anggota BMT dengan manfaat utama bagi peserta adalah baki debet pembiayaan lancar secara otomatis dilunasi dari dana Ta’awun.

  • Dana Ta’awun Kecelakaan Diri.

Produk ini dikemas sebagai bentuk pemberian kompensasi atas hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan akibat dari resiko kecelakaan. Semua kecelakaan baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan ditanggung oleh produk ini.

  • Dana Ta’awun Jiwa.

Produk ini merupakan bentuk santunan kepada ahli waris yang ditinggalkan oleh peserta.

Dari jenis-jenis produk diatas biaya iuran yang harus dibayarkan oleh peserta cukup murah dimulai dari Rp 5.000,00 per tahun telah dapat menjadi peserta Dana Ta’awun Jiwa dengan manfaat utama memperoleh pertanggungan minimal sebesar Rp 500.000,00 bagi ahli warisnya. Untuk manfaat yang lebih besar  disesuaikan dengan besarnya iuran. Besarnya iuran ta’awwun sendiri bervariasi berdasarkan tingkat resiko seseorang, diantaranya menyangkut aktivitasnya, usia dan penyakit yang dideritanya.

  • KELAYAKAN PRODUK INOVASI
  1. Analisa Manfaat (Benefit) dan Biaya (Cost)
NoKualifikasi                                                               AspekSatifaction Benefi                (0-5)WeightWeighted Benefit
1Murah dalam iuran/premi330%1,5
2Memperoleh perlindungan dari resiko jiwa525%1,25
3Bebas biaya pengelolaan530%1,5
4  Back to back pembiayaan di BMT25%0,1
5  Menyediakan dana murah bagi masyarakat dalam pembiayaan25%0,1
6  Dana abadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan social lainnya25%0,1
Total Weighted Benefit4,55
NoKualifikasi                                                             AspekCost                  (0-5)WeightWeighted Cost
1Harga premi250%1,00
2Menjadi anggota BMT250%1,00
Total Weighted Cost2,00
Net Value = Benefit-Cost2,55

Dari data analisa benefit and cost tersebut terlihat, bahwa benefit dari produk ini sangat besar dibanding dengan cost yang dikeluarkan oleh pengguna (customer).

Produk Dana Ta’awun didesain bebas biaya pengelolaan, dan menjadikan produk ini menjadi murah sementara manfaatnya lebih besar dibanding produk asuransi.

  • Analisa Peluang dan Ancaman atas Produk
  • Analisa Peluang Produk
  • Sebagian besar masyarakat mikro belum terlayani dengan asuransi mikro. Tentu ini adalah peluang untuk memasarkan Dana Ta’awun kepada masyaakat mikro khususnya anggota BMT.
  • Berdasarkan kajian dari kementrian Koperasi dan UKM jumlah masyarakat mikro yang tidak dapat terlayani oleh bank berkisar 24 juta orang, artinya angka ini tentu peluang bagi BMT sebagai LKM dan tidak menutup kemungkinan bagi LKM non BMT mengembangkan produk ini.
  • Analisa Ancaman Produk

Ancaman produk tentu berasal dari produk asuransi yang telah berjalan selama ini, dengan anlisa benefit dan cost dapat dianalisa sebagai berikut:

NoKualifikasi                                                               AspekSatifaction Benefi                (0-5)WeightWeighted Benefit
Dana Ta’awunAsuransiDana Ta’awunAsuransiDana Ta’awunAsuransi
1Murah dalam iuran/premi3230%30%1,50,6
2Memperoleh perlindungan dari resiko jiwa5525%50%1,252,5
3Bebas biaya pengelolaan5030% 1,5 
4Back to back pembiayaan205% 0,1 
5Menyediakan dana murah bagi masyarakat dalam pembiayaan205% 0,1 
6Dana abadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan social lainnya205% 0,1 
7Pembayaran mudah melalui ATM/outlet channeling office02020%00,4
Total Weighted Benefit4,553,50
NoKualifikasi                                                             AspekCost                  (0-5)WeightWeighted Cost
1Harga premi2350%60%1,001,5
2Menjadi anggota BMT2050%01,00 
3Pengelolaan dana 3 40%1,2
Total Weighted Cost    2,002,7
   
Net Value = Benefit-Cost2,550,8
  • Nilai Investasi dan Keuntungan Bagi Investor

Produk dana Ta’awun dikembangkan di BMT, nilai investasi atas produk ini tidaklah besar. Invetasi lebih banyak digunakan untuk mengembangkan support sistem teknologi IT dan pelatihan/short course bagi para pengelola BMT.

Produk Dana Ta’awun di BMT merupakan tambahan layanan yang berorientasi pada pengurangan terhadap dampak resiko-resiko yang terjadi pada anggotanya sehingga member manfaat pada bisnis BMT dalam mengurangi resiko pembiayaannya.

  • Pemasaran Produk

Produk Dana Ta’awun dapat dipasarkan kepada anggota BMT dan kepada masyarakat secara lebih luas. Adapun strategi dalam pemasaran Dana Ta’awun dilakukan melalui beberapa cara:

  • Presentasi forum.

Di beberapa pertemuan-pertemuan masyarakat Produk Dana Ta’awun ditawarkan dengan penyampaian presentasi produk. Cara ini sekaligus digunakan untuk mengembangkan atribut produk lebih lanjut.

  • Personal Approach.

Produk Dana Ta’awun merupakan produk yang bersifat privasi, karenanya pendekatannya dilakukan juga secara personal. Untuk langkah efisiensi maka tenaga pemasarnya adalah marketing maupun Account Officer BMT yang telah secara rutin melakukan kunjungan personal kepada nasabah/anggota BMT.

Sebagai langkah-langkah untuk meyakinkan kepada masyarakat maka produk Dana Tawwun dikemas pula dengan berbagai kemudahan dan transparansi perkembangannya. Bentuk dari kemudahan dan transparansi tersebut adalah :

  • Persyaratan yang mudah baik dalam registrasi maupun dalam klaim.
  • Dalam registrasi dapat dilakukan dengan registrasi otomatis melalui pembiayaan ataupun tabungan tanpa harus mengisi formulir lainnya, cukup membubuhkan tanda kepesertaan pada formulir pembiayaan dan formulir  tabungan.
  • Dalam klaim juga cukup mudah dengan melampirkan keterangan dokter atau surat kematian.
  • Proses pencairan dana cepat dengan prosedur yang mudah misalkan cukup diverifikasi petugas dan persetujuan manajer BMT. Pencairan dapat dilakukan tunai atau overbooking ke tabungan atau untuk melunasi pembiayaan jika peserta memiliki tunggakan dalam pembiayaan. Prosedur ini dapat dilakukan cukup 10 menit.
  • Transparansi perkembangan Dana Ta’awun

BMT setiap tahun menyampaikan laporan baik melaui RAT yang tersaji dalam Laporan Pertanggungjawaban dihadapan para anggota maupun dalam booklet annual report tentang jumlah dana abadi ummat yang terhimpun melalui produk Dana Ta’awun

  • CARA MEREALISASI DANA TA’AWUN
  • BMT menyiapkan perangkat software, administrasi dan sistem secara keseluruhan termasuk pelatihan bagi semua pengelola BMT.
  • Tahap awal produk ini ditawarkan kepada anggota BMT khususnya yang memiliki rekening pembiayaan.
  • Pemasaran dikembangkan kepada masyarakat secara lebih luas.
  • Secara periodic perkembangan Dana Ta’awun disampaikan secara terbuka meliputi jumlah peserta dan Dana Abadi yang telah terkumpul, serta total Dana Abadi yang telah dimanfaatkan sebagai klaim.
  • KESIMPULAN
  • Inovasi produk Dana Taawun merupakan bentuk pengembangan produk yang menjawab kebutuhan masyarakat mikro tentang resiko-resiko yang terkait dengan resiko jiwa secara umum.
  • Penggunaan nama Dana Ta’awun merupakan kunci dari produk ini sebagai daya tarik tersendiri akibat dari image asuransi yang tidak bagus di masyarakat.
  • Produk Dana Ta’awun sangat tepat dikembangkan di BMT atau LKM untuk menghilangkan biaya pengelolaan dan menjadikan produk ini menjadi produk yang betul-betul sesuai dengan kondisi masyarakat mikro.
  • Bagi penyelenggara Produk Dana Ta’awun produk ini merupakan produk yang tepat untuk mengurangi resiko-resiko di BMT terutama resiko pembiayaan sekaligus meningkatkan loyalitas nasabah/anggota BMT.

The Characteristics of Sharia Marketing

Sebuah Review tulisan Muhammad Syakir Sula

(Praktisi Asuransi Syariah, Penulis Buku Syariah Marketing)

Kata syariah dalam dunia ekonomi sesungguhnya merupakan konsep universal yang merupakan nilai yang dapat diterima oleh seluruh manusia. Ini terbukti nilai syariah dengan berbagai redaksi menjadi ajaran berbagai agama besar dunia (Yahudi, Nasrani Islam). Sehingga saat ini ekonomi syariah bukanlah barang yang eksklusif lagi namun telah menjadi ilmu yang terus dieksplorasi untuk dirasionalisasikan dalam teori-teori ekonomi modern.

Dalam dunia marketing prinsip-prinsip syariah yang ditawarkan dalam artikel ini meskipun merujuk pada nilai-nilai Islam, tetapi nilai-nilai yang ditawarkan sesungguhnya adalah merupakan nilai-nilai yang universal. Nilai –nilai seperti (1) Teistis (Rabbaniyyah) pada hakekatnya nilai-nilai yang dikembalikan kepada hati manusia terutama keikhlasan dan keadilan. (2) Etis (Akhlaqiyah) merupakan nilai pada selalu meakukan perbaikan dan pencapaian kemakmuran manusia, tidak adanya ekploitasi sepihak dan selalu berorientasi pada masa depan kehidupan yang lebih baik. (3). Realistis (Al-Waqiah) bahwa nilai syariah bukanlah ilmu tekstual yang bersifat melangit, namun merupakan konsep yang dapat diaplikasikan sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia sehingga senantiasa berkembang. (4) Humanistis (Insaniyyah), yang maknanya membimbing manusia untuk menjadi manusia sebagai makhluk yang bermartabat, mampu mengendalikan nafsunya sehingga tidak hanya mengejar kepuasan dan kenikmatan semata, nmaun bagamaiana menjadi manusia yang mengelola dunia demi kemakmuran seluruh makhluk di dunia ini.

apa yang ditulis oleh Syakir Sula memang masih pada tataran normative. Nilai-nilai yang ditawarkan lebih bersifat nilai-nilai yang abstrak sebagai konsep besar dalam syariah marketing. Tulisan ini perlu dipertajam dengan memberikan penekanan pada aplikasi nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku ekonomi menjadikannya sebagai model dan teori ekonomi yang mampu diterima oleh para penentu kebijakan. Sebagai missal bagaimana model konsep teistis dalam marketing, bagaimana berbagi informasi sehingga tidak terjadi ghoror misalnya.

oleh Dedi Heri Sutendi (Ketua Koperasi BMT ELBUMMI 373, Trainer, Praktisi NLP)

Filantropi Muhammadiyah Piyungan

Wabah Covid-19 atau Corona benar-benar memberikan dampak yang besar ke seluruh dunia, termasuk segala aspek kehidupan masyarakat terutama aspek ekonomi. Ekonomi masyarakat benar-benar lesu karena diberlakukan kebijakan yang mengurangi kegiatan perputaran uang dan jual-beli seperti lockdown, work from home (WFH), isolasi diri, sosial maupun physical distancing yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran wabah ini.

Pihak yang merasakan dampak tersebut antara lain pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pariwisata, manufaktur, dan  masyarakat menengah ke bawah. Banyak toko, warung, ataupun rumah makan yang berkurang pendapatannya bahkan ada yang tutup, banyak pegawai yang berkurang pendapatannya, banyak buruh yang dirumahkan, banyak tempat wisata di piyungan yang tutup dan berdampak ke masyarakat sekitar, serta pekerjaan-pekerjaan lain yang ikut terdampak. Hal ini diperparah lagi karena perkerjaan tersebut adalah pemasukan utama dalam kehidupan mereka.

Melihat dampak tersebut, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan di Indonesia terkhusus di kecamatan Piyungan, mulai berinisiatif untuk melakukan kegiatan membantu sesama (ta’awun) atau gerakan filantropi. Hal ini sesuai dengan surat keputusan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang meminta warga Muhammadiyah untuk membantu sesama sebagai wujud fastbiqul khoirot, maka Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan segera bertindak untuk melawan wabah ini.

Istilah filantropi berasal dari bahasa Yunani yakni Philanthropia yang diartikan sebagai cinta manusia. Secara harfiah filantropi diartikan sebagai kepedulian seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain berdasarkan kecintaan kepada manusia. Memakai salah satu teori aktivisme filantropi (Helmut K. Anheier dan Diana Leat : 2006), Muhammadiyah menjalankan yang disebut sebagai filantropi kreatif, yakni salah satu pendekatan dimana ia dapat mengembangkan berbagai perangkat dan praktik model pelayanan filantropi. Gerakan filantropi Muhammadiyah dilakukan melalui lembaga yang dimilikinya yaitu Lembaga Amal Zakat Muhammadiyah (Lazismu). Lembaga yang didirikan dengan semangat Teologi Al-Ma’un ini ikut berperan aktif dalam melawan wabah ini, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Piyungan selain melalui Lazismu, ditambah juga BMT EL-BUMMI 373 yang merupakan amal usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi ujung tombak di Piyungan. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan donasi baik via online melalui nomor rekening ataupun via offline dengan dikasih ataupun mengambil secara langsung dari para donatur.

Program kerja yang dilakukan oleh AUM Piyungan berupa pembagian handsanitizer, masker kain, dan penyemprotan. Seiring berjalannya waktu, kedua AUM ini melebur menjadi satu dalam sebuah tim khusus yang dibentuk untuk menghadapi wabah ini yaitu Muhammadiyah Covid-19 Command Center Piyungan (MCCC Piyungan). Tim ini memakai SMA Muhammadiyah Piyungan sebagai posko, untuk program kerjanya  hampir sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Adapun perluasan program dan penambahan program yaitu bentuk donasi tidak hanya uang akan tetapi bisa dalam bentuk barang yang dibutuhkan saat ini seperti alat pelindung diri (APD), masker, handsanitizer, dan sembako. Untuk penyalurannya menargetkan masyarakat yang terdampak terutama warga Muhammadiyah yang berkerja di AUM seperti guru, pegawai, dan warga Muhammadiyah yang berada di sekitar masjid-masjid Muhammadiyah Piyungan. Tim MCCC Piyungan sendiri terdiri dari badan pengurus harian (BPH), tim assessment, tim logistik, tim dana usaha (fundraising), dan tim media sehingga lebih terorganisir.

Hal ini menunjukkan bahwa sifat memberi (altruisme) yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah tidak hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi sebuah kebiasaan. Warga Muhammadiyah pun menyadari bahwa ini saatnya untuk saling bahu membahu (ta’awun) dan berkerja sama untuk melewati situasi sulit ini.

Tentunya kegiatan ini sangat membanggakan, meski ada sedikit kritik yang sering dilontarkan terhadap kegiatan penggalangan dana. Pelaku penggalangan belum tentu ikut menyumbang adalah sebuah kritik yang perlu direnungkan juga, terlepas dari benar atau salah kritik tersebut. Maka sudah selayaknya dalam kegiatan penggalangan dana tersebut, terkhusus para kader Muhammadiyah untuk tidak lupa ikut memberi  terlebih dahulu sebelum meminta.

Oleh : Herlambang Dwi Prasetyo

(Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Piyungan)

Apakah Sama Bunga Bank dengan Riba?

Menurut ekonom konvensional, bunga (interest) adalah “harga” dari penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai “sewa” atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Bunga (interest) biasanya dinyatakan dalam bentuk % per satuan waktu yang disepakati (hari, bulan, tahun, dan atau satuan waktu yang lain). Sebelum membicarakan bunga lebih jauh, mari kita lihat sejarah munculnya bunga terlebih dahulu. Bunga ini mulai muncul kurang lebih sejak 2.500 tahun sebelum Masehi dalam masyarakat Mesir Purba dan Yunani Kuno, kemudian pada masa Romawi yang terwujud dalam bentuk hutang piutang. Selanjutnya, kegiatan hutang piutang inilah yang menjadi cikal bakal kegiatan perbankan modern yang dikelola dengan sistem administrasi yang lebih tertib dan teratur yang muncul di Italia pada abad pertengahan dan hanya dikuasai oleh beberapa keluarga yang pada waktu itu digunakan untuk membiayai kegiatan kepausan dan produksi benang maupun kain wol. Seiring berjalannya waktu, perkembangan perbankan mulai berkembang pesat pada abad ke 18 dan 19.

Kontroversi tentang bunga ternyata tidak hanya tejadi pada saat ini saja, akan tetapi sejak kemunculannya, bunga sudah menjadi kontroversi. Para filosof Yunani dan Romawi seperti Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) pada umumnya mereka mengecam dan mengutuk praktik pemungutan bunga pinjaman atas uang yang berlangsung pada saat itu. Plato mengecam bunga karena dapat menyebabkan perpecahan, perasaan tidak puas dalam masyarakat dan bentuk eksploitasi orang kaya terhadap orang miskin. Aristoteles juga mengatakan bahwa bunga adalah bentuk ketidakadilan karena ia berasal dari sesuatu (keuntungan berusaha) yang belum pasti terjadi.

Pada masa Plato dan Aristoteles, pengambilan tambahan uang atas pinjaman lebih dikenal dengan rente (usury) yaitu bunga uang yang jumlahnya cukup besar. Berbeda dengan bunga (interest) pada saat ini yang nilainya relatif lebih kecil. Pada perbedaan seperti ini tidak mudah untuk menentukan standarisasi berapa yang dikatakan besar atau kecil tersebut, meskipun secara logika sederhana dapat dipahami bunga itu besar apabila dalam satu tahun bertambah 100% atau menjadi dua kali lipat pokok pinjaman. Lantas “angka berapa” yang tergolong kecil sehingga tidak termasuk bunga?Apakah sama ukuran besar-kecilnya bunga menurut satu orang dengan orang yang lainnya dengan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang berbeda-beda? Ukuran besar-kecil inilah yang menjadikan perbedaan pendapat tentang apakah bunga yang kecil seperti saat ini termasuk yang dilarang oleh agama atau tidak.

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin tentu saja mengatur segala dimensi kehidupan manusia, baik dalam dimensi ibadah maupun dimensi muamalah. Begitu juga dengan fenomena bunga (interest) yang muncul dalam aktifitas ekonomi manusia yang merupakan bagian dari muamalah sudah pasti juga diatur oleh Islam. Akan tetapi, karena istilah atau “kata” bunga (interest) baru muncul pada abad baru-baru ini, sedangkan Islam sudah datang sejak 14 abad yang lalu, maka memang tidak ditemukan dalam suatu ayat maupun hadist yang menyebutkan tentang bunga. Namun, istilah yang muncul dalam Al Qur’an maupun hadist adalah riba yang ketika diterjemahkan dalam bahasa inggis menjadi usury, bukan interest. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, pada titik inilah terjadi perbedaan pendapat apakah bunga (interest yang tidak berlipat ganda) sama dengan riba? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pelajari terlebih dahulu apa yang dimaksud riba itu.

Secara istilah bahasa, riba adalah ziyadah atau tambahan. Sedangkan secara istilah teknis, riba adalah pengambilan tambahan dari harga pokok (modal) secara batil. Secara umum riba dapat juga diartikan sebagai penambahan terhadap pokok hutang. Artinya, setiap penambahan dalam hutang baik kualitas maupun kuantitas, baik banyak maupun sedikit, adalah riba yang diharamkan. Larangan mengambil harta sesama secara batil terdapat pada surat An-Nisa ayat 29 :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

 Secara garis besar, riba terbagi dalam dua jenis yaitu riba hutang piutang dan riba jual beli. Riba hutang piutang juga masih terbagi dalam dua jenis lagi yaitu :

  1. Riba Qord, yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan kepada yang berhutang (Muqtaridh).
  2. Riba Jahiliyah, yaitu hutang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

Sedangkan riba jual beli juga masih dibagi dalam dua jenis yaitu :

  1. Riba Fadhl, yaitu kelebihan pada salah satu harta sejenis yang diperjual belikan dengan ukuran tertentu. Riba ini banyak berlaku dalam transaksi barter, barang dengan barang.
  2. Riba Nasi’ah, yaitu kelebihan atas piutang yang diberikan orang yang berhutang kepada pemilik modal ketika waktu yang disepakti jatuh tempo. Apabila dalam transaski hutang piutang, pihak yang berhutang tidak mampu membayar hutang dan tambahannya, hutang dapat diperpanjang dengan persyaratan hutang bertambah pula.

Apabila memperhatikan definisi riba di atas dan memperhatikan praktik bunga dalam perbankan konvensional pada saat ini, maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa bunga bank adalah riba. Menurut Imam Nawawi, salah satu bentuk riba yang dilarang dalam Al Qur’an dan Sunnah adalah penambahan harta pokok karena unsur waktu. Dalam perbankkan konvensional hal ini disebut dengan bunga kredit sesuai dengan lama waktu pinjaman. Prof. Dr. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa sebanyak 300 ulama dan pakar ekonomi dunia telah ijma’ tentang keharaman bunga bank. Mereka terdiri dari ahli fiqih, ahli ekonomi, dan ahli keuangan dunia.Tidak ada seorang pun ulama yang telah ijma’ tersebut membantah tentang keharaman bunga bank.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi dari berbagai organisasi Islam yang ada di Indonesia juga telah melakukan pengkajian yang mendalam mengenai hukum bunga bank. Terdapat dua pertimbangan bagi MUI dalam melakukan pengkajian terhadap bunga bank ini, yang pertama yaitu hukum asal bunga bank yang diidentikan dengan riba pada jaman kehidupan Nabi SAW dahulu dan yang kedua yaitu mempertimbangkan kondisi perbankan Indonesia saat ini yang sudah banyak terdapat kantor bank syariah. Akhirnya pada bulan Januari 2004 MUI mengeluarkan fatwa haram bunga bank. Isi utama dari fatwa MUI tesebut adalah sebagai berikut :

Pertama: Pengertian Bunga (interest) dan Riba

  • Bunga (interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/ hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase.
  • Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.

Kedua: Hukum Bunga (interest)

  • Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Nabi SAW, dan inilah Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk riba, dan riba hukumnya haram.
  • Praktek pembungaan tersebut hukumnya haram, baik dilakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangaan lainnya, maupun yang dilakukan oleh individu.

Ketiga: Bermuamalah dengan Lembaga Keuangan Konvensional

  • Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan syariah dan mudah untuk dijangkau tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan pada perhitungan bunga.
  • Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan syariah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip darurat/hajat.

Sebagai orang muslim, kita harus mengambil  sikap atas sistem perbankan konvensional yang mengandung unsur riba. Tidak dipungkiri lagi bahwa sistem bunga bank sudah mendarah daging di kalangan ummat Islam. Oleh karena itu, secara perlahan namun pasti kita harus berubah haluan dari sistem perbankan yang mengandung riba menuju sistem perbankan yang bebas dari riba.

Larangan Riba Dalam Al Qur’an :

  1. Surat Ar Rum ayat 39

Artinya: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

  • Surat An Nisaa ayat 160-161

Artinya:  Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan Karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

  • Surat Ali Imran ayat 130

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

  • Surat Al Baqarah ayat 278-279

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka Ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

  • Surat Al Baqarah ayat 275

Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Larangan Riba Dalam Hadits:

  1. Hadits ini merupakan isi dari surat Rasulullah SAW kepada Itab bin Usaid, gubernur Mekkah, agar kaum Thaif tidak menuntut hutangnya (riba yang telah terjadi sebelum kedatangan Islam) dari Bani Mughirah :

Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Dia pasti akan menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba, oleh karena itu, hutang akibat riba harus dihapuskan. Modal (uang pokok) kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan.

  • H.R. Bukhari

Diriwayatkan oleh Samura bin Jundab bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke tanah suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, “Siapakah itu ?”, Aku diberitahu, bahwa laki-laki yang ditengah sungai itu ialah orang yang memakan riba”.

  • H.R. Muslim

Jabir berkata bahwa Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian Beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama”.

Wallahu’alam.

Bahan Utama Tulisan ini diambil dari Muhammad Ghafur Wibowo, Pengantar Ekonomi Moneter (Tinjauan Ekonomi Konvensional dan Islam), Biruni Press, Yogyakarta.

Andy Putra Wijaya, S.E.I., M.S.I.

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Syari’ah, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) KSPPS BMT EL BUMMI 373

MENGGERAKKAN KONSUMSI PRODUK OLAHAN UNTUK KEBERLANGSUNGAN EKONOMI UMKM SAAT PANDEMI COVID 19

Strategi Sinergisasi Program Tanggap Sosial dengan Lembaga Keuangan Mikro Syariah BMT

Pandemi covid 19 diperkirakan lama. Kota Wuhan di China sebagai epicentrum pertama penyebaran covid 19 mengalami kembali gelombang wabah yang bisa disebut second wave. di berbagai Negara terutama Negara-negara Eropa dan Amerika, pandemi ini terus mengalami peningkatan yang luar biasa. Indonesiapun menjadi Negara dengan peningkatan kasus positif covid 19 tertinggi di Asia Tenggara. Efek yang luar biasa dari penyebaran ini memukul sektor fundamental ekonomi berbagai Negara hingga pertumbuhan ekonomi mengalami minus.

Dampak yang diperkirakan panjang ini disadari sepenuhnya oleh seluruh warga dunia termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai stimulus dan bantuan sosial, salah satu yang menjadi perhatian serius adalah masalah pangan.  Sektor ini disiapkan melalui program-program yang telah berjalan dan program-program lain seperti teralokasi dari dana desa dan jarring pengaman sosial lainnya. Tak kalah hebat, masyarakatpun bahu membahu melakukan kesiapsiagaan yang digalang oleh ormas, orsos, lembaga caritas/baitul maal dan organisasi-organisai lain serta masyarakat sampai tingkat kampong. Itu semua dilakukan untuk memberikan perhatian bagi pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat terdampak pandemi Covid 19.

Upaya yang semakin massif ini tentunya sanagat positif, namun demikian perlu lebih dikreasikan agar memberikan nilai tambah dan memperluas nilai manfaatnya. Bantuan pangan dapat memberikan solusi pemenuhan pangan, namun belum berdampak lebih luas untuk menggerkkan sektor ekonomi terutama UMKM. Persoalan utama dalam keadaan pandemi ini adalah lumpuhnya sektor ekonomi sebagian besar UMKM sehingga menyebabkan turunnya daya beli masyarakat sampai pada tingkat yand rendah.

Secara prosentase jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 99 % dari total usaha. Prosentase ini menunjukkan bahwa dampak ekonomi akibat covid 19 akan dirasakan oleh sektor ini pula. 60% UMKM bergerak dalam sektor pangan (pertanian, perikanan, pengolahan makanan/minuman, restoran, catering dan warung makan). Yang artinya, jika bantuan-bantuan sosial dapat melibatkan UMKM di sektor pangan ini secara lebih luas maka akan memberikan efek ekonomi yang berlipat (Multiple effect of economic)

Bantuan Pangan pada Saat Masa Pandemi Covid 19

Berbagai gerakan bertemakan ketahanan pangan melalui program-program sosial hampir semuanya melakukan santunan berupa bantuan pangan. Bantuan pangan yang disalurkan berupa beras, minyak goreng, mie instan, lauk-pauk kalengan dll. Jika dicermati maka bantuan tersebut belum memberikan dampak multiple effect of economic kepada sektor usaha kecil dan mikro. Bantuan berupa beras misalnya, maka belum melibatkan usaha keil dan mikro memperoleh manfaat di dalamnya. Berbeda jika bantuan diberikan dalam wujud makanan olahan, seperti abon, telor asin, bakso dll. Bantuan ini akan memberikan manfaat tidak hanya bagi penerima, namun sekaligus akan menggerakkan sektor usaha kecil dan mikro. Misalkan pembuatan bakso, maka industri besar penyuplai terigu terlibat, industri tepung kanji dari ketela terlibat, industri peternakan sapi terlibat dan industri penyuplai bahan-bahan pembantu ikut terlibat. Contoh lain pada produk abon lele, maka peternakan lele terlibat, industri kecil olahan abon terlibat, perdagangan bumbu-bumbu terus bergerak dan pastinya akan menyerap tenaga kerja di sektor produksi dan distribusinya pula.  Itu sekedar contoh bagaimana kluster-kluster UMKM dapat bergerak ketika bantuan sosial diwujudkan dalam bentuk olahan pangan. Bebeda jika bantuan lebih didominasi berupa beras yang dipastikan tidak banyak sektor usaha lain yang dapat merasakan manfaatnya atas pengadaan beras ini selain dari sektor pertanian dan penggilingan padi atau jalur distribusinya. Beras sendiri dapat diolah dalam berbagai produk-produk olahan yang memiliki nilai tambah, sehingga menciptakan geliat ekonomi yang bersamaan dengan program-program caritas yang dilaksanakan oleh organisasi-organisasi sosial.

Sinergisasi Program dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKMS) BMT

Program sosial pada akhirnya dapat pula berperan untuk tetap menggerakkan sektor ekonomi terutama ekonomi mikro dan kecil ketika dapat memperbanyak pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitaas “bertambahnya nilai” suatu barang dari bahan baku menjadi bahan makanan olahan. Ativitas ini akan semakin berdampak luas ketika melibatkan sektor Lembaga Keuangan Mikro Syariah BMT. LKMS BMT yang berprinsip-prinsip syariah berkewajiban menyalurkan dananya untuk menggerakkan sektor riil. Sektor riil bergerak ketika sumber modalnya tercukupi dan pasarnya tersedia dengan baik. Di sisi lain Lembaga Keuangan terus berkembang ketika cashflow berjalan dengan lancar. Kekuatan ini semuanya akan terjadi ketika terwujud sinergisasi antara lembaga-lembaga donatur semacam Lembaga ZIS/Baitul Maal dengan LKMS BMT melalui program santunan berupa makanan olahan.

Saat ini banyak industri kecil berhenti produksi dan kehabisan modalnya sehingga terpaksa merumahkan para karyawannya. Peran LKMS BMT menjadi sangat penting untuk mendorong industri kecil-mikro ini bergerak kembali melalui stimulan pembiayaan. Tentunya ini terwujud ketika sinergisasi program bantuan sosial berupa makanan olahan dapat terwujud.

Akhirnya, melalui tulisan ini diharapkan dapat dilakukan perencanaan oleh pemerintah, masyarakat, ormas, lembaga sosial yang melaksanakan program-program bantuan pangan untuk dapat mengalihkan bantuannya dari mayoritas bahan makanan pokok untuk ditingkatkan secara signifikan prosentasi jumlah bahan makanan olahan dalam bantuan-bantuan yang disalurkannya.

oleh : Dedi S Heri (Ketua Koperasi BMT ELBUMMI 373, Trainer, NLPers)